Citra Garden 3 Blok B 27
Kalideres, Jakarta Barat - 11830
  (021) 29405097 / (021) 29405098
  (021) 54360841

Tahun Hikmat 2019 - Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat

Artikel

Pelayanan : Altar atau Panggung

Pelayanan itu sangat penting dalam hidup menggereja. Bahkan dapat dikatakan bahwa kehidupan menggereja dasarnya adalah pelayanan. Jika tidak ada pelayanan, gereja Katolik tidak ada. Apa yang dimaksud dengan pelayanan? Pelayanan berhubungan dengan kata “pelayan”, “melayani”. Pelayanan tidak berhubungan dengan “bos”, “pemilik” atau “pemerintah”. Dalam arti ini pelayanan lebih sebagai tindakan sukarela yang mengalir dari rasa syukur karena sudah mendapatkan banyak berkat dari Tuhan. Dasarnya adalah pengalaman bahwa Tuhan sudah begitu baik kepada saya. Ia memberikan hidup, iman, rejeki, keluarga, masa depan, kesehatan, dan segala macam berkat yang lain maka saya ingin orang lain juga mengalami berkat itu. Dari situlah muncul niat untuk melayani agar orang lain juga mengalami berkat seperti yang saya alami.

Pelayanan lebih pada pemberian diri, yang meliputi waktu, bakat, bahkan dana agar kehidupan menggereja menjadi lebih baik. Unsur pengorbanan dalam pelayanan sangat kental. Tidak ada pelayanan tanpa pengorbanan. Namun pelayanan juga merupakan wujud ucapan syukur atas karunia Tuhan yang sudah diterima. Jadi menjalaninya dengan suka cita dan kerendahan hati, bukan dengan terpaksa atau dengan kuasa. Pelayanan yang diberikan juga sekaligus profesional. Artinya tidak asal-asalan karena saya tidak terpaksa dan ingin memberikan yang terbaik untuk Tuhan yang sudah lebih dulu dan lebih banyak berbuat kasih untuk saya.

Namun dalam pelayanan sering terjadi persoalan. Persoalan utama muncul karena kurang menyadari apa arti sebenarnya dari pelayanan itu sendiri. Kadang melayani dengan terpaksa, tidak muncul dari hati yang ingin mengucap syukur. Akibatnya pelayanannya seadanya dan dengan berat hati. Kadang pelayanan bukan untuk kehidupan menggereja yang lebih baik, tetapi untuk diri sendiri, entah apa bentuknya. Akibatnya, pelayanan berpusat pada diri sendiri. Jika demikian maka akan muncul rasa kecewa, merasa tidak dihargai dan sulit diarahkan.

Tantangan pelayanan itu biasanya terdiri dari tiga hal. Pertama, merasa memiliki, merasa berjasa, sehingga semuanya tergantung saya. Orang lain tidak boleh campur tangan. Pelayanan ini milik saya. Saya yang merintis. Saya yang senior. Yang lain orang baru. Akibatnya, tidak ada regenerasi dan pertumbuhan. Semua berhenti di zona nyaman. Biasanya memang seperti itu. Sudah biasa begitu. Itulah ungkapan yang biasa muncul ketika situasi rasa memiliki ini terlalu besar. Perubahan dan regenerasi menjadi macet.

Yang kedua adalah rasa hormat yang berlebihan. Dalam hal ini sering terjadi masalah merasa sering dilewati, tidak diajak bicara, dan merasa kurang dihargai. Akibatnya terlalu prosedural dan tidak cepat tanggap terhadap perubahan yang terjadi. Banyak waktu dan energi untuk menyelesaikan masalah orang-orang yang tersinggung, sakit hati dan merasa tidak dihargai. Pelayanan kepada umat menjadi terganggu.

Yang ketiga adalah baperan. Semuanya dimasukkan ke dalam hati. Perselisihan dan perbedaan pendapat yang sebetulnya biasa, bahkan perlu untuk mencari jalan terbaik, menjadi urusan menyerang secara pribadi. Akibatnya sama. Tersinggung, sakit hati dan merasa tidak dihargai. Padahal dalam pelayanan itu perlu penegasan Roh bersama sehingga keputusan yang diambil bukan hanya keinginan satu dua orang, tetapi keinginan Roh Kudus yang pasti menghendaki kebaikan bagi seluruh Gereja.

Ketiga tantangan dalam pelayanan itu dapat digambarkan sebagai satu gambaran, yaitu panggung. Pelayanan sebagai panggung. Pusatnya saya, bukan Tuhan, bukan juga umat yang saya layani. Jika pelayanan masih berkisar di sekitar “panggung” maka sakit hati, tersinggung dan merasa tidak dihargai itu menjadi dominan. Perkembangan tidak terjadi, pertumbuhan iman berhenti. Kesaksian menjadi kontra produktif. Orang jadi malas untuk pelayanan karena tidak membawa suka cita dan berkat.

Seharusnya bagaimana? Seharusnya kita bisa berubah dari pelayanan sebagai “panggung” menjadi pelayanan sebagai “altar”. Kalau panggung pusatnya saya, maka “altar” pusatnya Tuhan. Perbedaan pendapat dan perasaan tersinggung yang biasa terjadi, tidak dominan. Semua bisa diarahkan demi kemuliaan Tuhan. Perasaan saya tidak lagi menempati tempat utama. Jika ada perselisihan pendapat atau gesekan, bisa diselesaikan dengan baik demi kebaikan bersama dan demi kemuliaan Tuhan. Dalam pelayanan yang berpusat pada altar, saya iklas untuk tidak kelihatan, sungguh hanya melayani, saya tidak penting. Tuhan yang penting. Karena Tuhan yang penting maka kerendahan hati harus menjadi ciri utama pelayanan. Perbedaan pendapat dan rasa tidak puas itu biasa. Tetapi tidak menjadi yang utama. Yang utama adalah kebaikan bersama dan kemuliaan Tuhan.

Semoga pelayanan kita bisa diwarnai oleh kerendahan hati, keikhlasan, suka cita, dan rasa syukur atas kebaikan Tuhan yang berlimpah. Semoga juga pelayanan kita menjadi kesaksian betapa indahnya iman kita akan Yesus, Tuhan kita yang datang untuk melayani dan bukan untuk dilayani. Dia datang untuk berkorban, menyerahkan nyawa demi sahabat-sahabatNya. (Rm. Antonius Rajabana, OMI)

 

Artikel Terbaru

Salah satu dongeng tentang pemain piano Ignace Paderewski adalah sebagai berikut: seorang ibu yang ingin mendorong puteranya agar bisa mahir be...
Dalam memeriahkan HUT Ke-4 Paroki Kalideres  dan HUT Ke-74 Republik Indonesia, Sie Kepemudaan Paroki Kalideres mengadakan SMI Cup dengan Tema ...
Bulan Agustus adalah bulan yang spesial bagi Paroki Kalideres karena bertepatan dengan 2 perayaan besar sekaligus, selain memperingati HUT Keme...
"Tumbuh bersama dalam Kristus,"  inilah tema yang diangkat dalam perayaan ulang tahun Persekutuan Doa Pembaruan Karismatik Katolik Santa Maria...
©2019 Gereja Santa Maria Imakulata.