Citra Garden 3 Blok B 27
Kalideres, Jakarta Barat - 11830
  (021) 29405097 / (021) 29405098
  (021) 54360841

Tahun Hikmat 2019 - Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat

Sejarah

Mengapa Santa Maria Imakulata?

“Apalah arti sebuah nama?  Setangkai bunga yang kita namai mawar, akan sama harumnya jika disebut dengan nama lain,” begitu Shakespeare, pengarang banyak puisi dan drama terkenal, penulis besar di zamannya yang berasal dari Inggris bertanya lewat tokoh dramanya, Juliet Capulet.

Nama diri sungguh bisa menjadi jati diri, melekat pada diri selamanya.  Dengan nama diri itulah kita dipanggil, dikenal, dan diingat.  Begitu juga dengan nama diri Gereja.  Mengapa sulit memilih nama untuk sebuah bangunan gereja dan kumpulan umatnya?  Harus dirembukkan di antara wakil Gereja, lalu diajukan ke Bapa Uskup Agung untuk persetujuan.  Mengapa tidak langsung saja mengambil nama-nama para kudus yang sangat banyak jumlahnya?

Pengajuan nama “Santa Maria Imakulata” sebagai nama bakal gereja yang saat itu belum menentu kapan akan mulai dibangun memiliki sejarah tersendiri.  Selain Santa Maria Imakulata adalah Pelindung Tarekat para Pastor yang berkarya di Paroki Trinitas, Cengkareng – Tarekat Oblat Maria Imakulata (OMI), Santa Maria Imakulata juga dipandang memiliki ikatan tak perpisahkan dengan paham Tritunggal Mahakudus (Trinitas).

Pada 08 Desember 1854, Bapa Suci Paus Pius IX memproklamirkan Dogma Maria Yang Dikandung Tanpa Dosa (Dogma Konsepsi Imakulata): “Sejak saat pertama dikandungnya, Perawan Maria yang amat terberkati, berkat kasih karunia yang  istimewa dari Allah Yang Mahakuasa, berdasarkan jasa Yesus Kristus, Juruselamat umat manusia, terlindung  dari segala noda dosa asal.”

Seperti kita ketahui, Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Tuhan memberikan kepada mereka apa saja yang mereka inginkan di Firdaus, Taman Eden. Tetapi Allah berfirman bahwa mereka tidak diperbolehkan makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Lucifer, raja iblis, datang kepada mereka dan membujuk mereka makan buah pohon tersebut. Adam dan Hawa memakan buah itu; mereka tidak taat kepada Tuhan dan karenanya mereka diusir dari Firdaus. Oleh karena dosa pertama itu, semua manusia yang dilahirkan sesudah Adam dan Hawa mewarisi apa yang disebut "dosa asal". Itulah sebabnya, ketika seorang bayi lahir, ia segera dibaptis supaya dosa asal itu dibersihan dari jiwanya sehingga ia menjadi kudus dan suci, menjadi anak Allah.

Ketika Allah Bapa hendak mengutus Putera-Nya, Yesus Kristus, ke dunia untuk menyelamatkan kita, Bapa memerlukan kesediaan seorang perempuan yang kudus untuk mengandung Yesus Kristus dalam rahimnya. Bapa memutuskan bahwa perempuan ini harus dibebaskan dari dosa asal Adam dan Hawa, haruslah seseorang yang istimewa serta amat suci dan kudus. Sama halnya seperti jika kita mempunyai satu termos air jeruk segar, maka kita tidak akan menuangkannya ke dalam gelas yang kotor untuk meminumnya, bukan? Kita akan menuangkan air jeruk segar itu ke dalam gelas yang bersih untuk meminumnya. Demikian juga Tuhan tidak ingin Putera Tunggal-Nya ditempatkan dalam rahim seorang perempuan berdosa. Oleh karena itulah Tuhan membebaskan Maria dari dosa asal sejak Maria hadir dalam rahim ibunya, Santa Anna. Inilah yang disebut Dogma Dikandung Tanpa Dosa - memang suatu istilah yang sulit, tetapi artinya ialah Maria tidak mewarisi dosa Adam dan Hawa, sehingga Maria dapat menjadi seorang bunda yang kudus yang mengandung Yesus dalam rahimnya.

Dengan mengandung Kristus, melahirkanNya, membesarkanNya, menghadapkanNya kepada Bapa di Kenisah,  serta dengan ikut menderita bersama Putranya yang wafat dikayu salib, Bunda Maria  secara sungguh istimewa bekerjasama dengan karya Juruselamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrati jiwa-jiwa.  Oleh karena itu, dalam tata rahmat, ia menjadi Bunda kita. (Lumen Gentium  61).

©2019 Gereja Santa Maria Imakulata.